(Thursday, June 19, 2008)
Malik Ridwan wartawan sumberpost
Sabang- Pemerintah Aceh sedang mengupayakan kehidupan bebas dari segala penyakit di wilayahnya, terutama penyakit malaria yang sering menyerang warga aceh dengan tiba-tiba, maka untuk kedepan masyarakat aceh akan hidup bebas dari serangan tersebut.
Penyakit Malaria termasuk ke dalam 10 penyakit paling mematikan di Nanggroe Aceh Darussalam, dimana lebih dari 4,700 orang dinyatakan positif Malaria. Sejauh ini, Malaria telah menyebar ke 23 kabupaten di propinsi NAD. Kata Asisten II bidang ekonomi dan pembangunan kota Sabang, Derryansyah Kandou, SE kepada pers selasa 17/6 disabang
Maka untuk menuju aceh yang bebas dari segala penyakit, pemerintah aceh yang didukung oleh lembaga donor intersional Unicef dan beberapa organisasi internasional lainnya mengadakan pertemuan yang serius untuk menangani persolan penyakit tersebut. Sebagai langkah awal pemerintah menunjukan kota sabang sebagai daerah percontohan pertama, kemudian akan diteruskan pada kabupaten/kota lainnya yang ada di Aceh. Tambahnya.
Apalagi sabang akan menjadi daerah wisata asing, sebagai daerah parawisata tentunya harus bersih dari penyakit yang mematikan, memilih sabang tentu banyak faktornya, disamping keberhasilan untuk mencegah berbagai penyakit, juga sedang mempersiapkan untuk program wisata yang berbasis pusat ekonomi dunia. Ungkapnya.
Kepala dinas Kesehatan Kota sabang, dr Ikhsan. M.Kes, mengatakan, usaha selama ini yang sudah kami lakukan dengan hasil yang sangat mengembirakan, dari 95 kasus kinis per seribu penduduk pada tahun 2004 menjadi 45 klinis perseribu pada tahun 1997.
Saat ini hanya tinggal 6 desa (Krueng Raya, Paya Seunara, Cot Abeuk, Balohan, Jaboi, Keunekai) dalam wilayah kota sabang yang sangat masih tinggi dan 8 desa lainnya sudah mencapai 1 kasus positif yang sudah terkonfirmasi dengan pemeriksaan laboratorium dalam seribu penduduk pada tahun 2007. Jelasnya.
Berdasarkan data yang dikemukan diatas, maka saya lihat Sabang akan siap membebaskan malaria pada 2015 bahkan bisa lebih cepat dari target yang ditetapkan oleh Departemen Kesehatan” ujar Kepala Dinas Kesehatan Kota Sabang.
Pada saat yang sama kepala Dinas Kesehatan Propinsi NAD, yang diwakili oleh assitennya Saiful Bahri, SKM, M.Kes, mengatakan, alasan memilih sabang sebagai daerah percontohan, dilatar belakangi karena usaha yang telah mereka lakukan sudah terbukti.
Maka Untuk mencapai target membebaskan malaria di seluruh Propinsi NAD, pemerintah propinsi NAD merangkul berbagai mitra baik nasional maupun internasional seperti WHO, UNICEF, LSM internasional (MENTOR, Mee Fah Luang), serta Palang Merah Indonesia dan Palang Merah Amerika, untuk bahu membahu melakukan berbagai kegiatan pembebasan malaria, tambahnya.
Sementara itu, Staf Unicef Aceh bagian pengendalian penyakit menular, Dr. Herdiana, mengatakan ada beberapa strategi perlu dipersiapkan oleh pemerintah propinsi NAD, dan pemerintah kota Sabang untuk membebaskan daerahnya dari penyakit malaria.
Strategi tersebut antara lain, Adanya komitmen yang kuat dari pemerintah baik daerah maupun pusat, Adanya kerjasama lintas sektoral yang nyata, Penguatan sistem penanganan kasus malaria, Peningkatan kualitas pemeriksaan konfirmasi laboratorium untuk seluruh kasus dengan dugaan malaria.
Srategis lainnya, adanya kegiatan pengendalian vektor yang terpadu, terfokus dan berkelanjutan, Peningkatan sistem surveillans, adanya prakarsa kerjasama untuk daerah perbatasan, baik dalam hal skrining dan pengobatan. Peningkatan partisipasi masyarakat dan pelaksanaan kegiatan peningkatan kesadaran masyarakat yang terus menerus dan berkesinambungan. serta kegiatan pemantauan dan evaluasi dari segi operasional dan tendensi dari perubahan pola penyakit. tambahnya
“Strategi tersebut tidaklah terlalu muluk, karena kondisi penyakit ini tidak terlalu tinggi insidensinya dibandingkan dengan beberapa propinsi di Indonesia bagian timur,” imbuh dr. Herdiana.
Posted in
Diposkan oleh
kulatbulat
di
Thursday, June 19, 2008
oleh :malik ridwan kontrinutor bisnis indonesia
Banda Aceh-IAIN Ar-Raniry menjalin kerjasama dengan university Kebangsaan Malaysia dalam bidang pengembangan ilmu pengetahuan yang mutakhir di abad sekarang ini. Kesepakatan ini terwujud bermula dari melakukan seminar internasional yang berlangsung selama dua hari di gedung pogram pascasarjana IAIN Ar-Raniry.
Banyak hikmah dan manfaat yang kami dapatkan disini, selama dua hari di Aceh sangat terasa nyaman dan dingin, aceh benar-benar tidak ada konflik lagi, kami merasakan hal itu, kata idris zakaria, wakil Dekan UKM Malaysia, Rabu 17/di banda aceh.
Secara spontan Idris Zakaria menawarkan kerjasama yang konkret dengan IAIN Ar-Raniry dalam sumber daya manusia, kami inginkan aceh ini maju dalam dunia pendidikan, tidak harus menunggu lama, jika perlu mari kita barter antar dosen IAIN Ar-Raniry dangan UKM, selanjutnya kita lakukan pertukaran antar mahasiswa. Lanjutnya.
Tawaran ini muncul setelah diskusi yang panjang dengan pihak IAIN. Idris juga memuji kesabaran masyarakat aceh dan begitu cepat beradatasi dengan lingkungan. Dulu kami hanya mendengar konflik politik di Aceh begitu panjang. Namun sekarang sudah bangkit dan bahu bersama untuk membangun negeri yang telah porak-poranda ini. Sebut wakil dekan UKM ini.
Katanya, apa yang bisa kami lakukan untuk aceh ini. Kami hanya bisa membantu lewat jalur pendidikan, mudah-mudahan pertemuan yang singkat ini bisa berlanjut di masa yang akan datang. Untuk itu kami ingin mengikat kerjasama yang konkret dengan pihak IAIN Ar-Raniry agar aceh ini bisa lebih maju dalam dunai pendidikan. Tambah Idris zakaria.
Samentara itu, pihak IAIN dalam hal ini diwakili oleh Pembantu Rektor I bidang Akademik. M.Nasir Budiman. Membenarkan tawaran yang diajukan oleh pihak UKM kepada IAIN Ar-Raniry. Kedua belah pihak sudah memiliki komitmen bersama untuk saling memajukan pendidikan Aceh.
“investasi pendidikan lebih jauh berharga bila di bandingkan dengan investasi bidang lain, sebab menguasai ilmu sangat mendukung untuk menguasi belahan dunia, untuk itu kami sambut dengan baik tawaran ini,” kata M.Nasir Budiman
Untuk tahap pertama kita lakukan pertukaran tenaga pengajar sesuai dengan kebutuhan dan disiplin ilmu yang kita miliki, dan karya-karya dosen kedua universitas ini. Untuk selanjutkan nanti sama-sama di bahas sesuai dengan undang-undang yang berlaku. Jelas nasir.
Sebutnya, kita tinggal selangkah lagi untuk mewujudkan impian yang telah disepakati ini, kita akan meminta persetujuan gubernur Aceh untuk meneruskan tawaran ini. Karena dalam amanat MoU Hensilki serta UU-PA, segala bentuk kerjasama dengan berbagai negara cukup disetujui oleh kepala pemerintahan Aceh.
“kita tidak ingin melanggar ketentuan yang telah ada, sepulang gebernur dari jakarta kita akan melaporkan hal ini, mudah-mudahan bapak gubernur bisa memahami keinginan kedua belah pihak dan kita berdoa saja semoga disetujui,” imbuhnya.
Posted in
Diposkan oleh
kulatbulat
di
Thursday, June 19, 2008
Banda Aceh-Lebih dari 15 ribu anak sekolah tingkat menengah umum di aceh dinyatakan tidak lulus pada ujian Nasional yang diselenggarakan pada mei lalu.
Lemahnya kontrol terhadap pendidikan di aceh, menyebabkan mutu pendidikan menurun drastis, kata burhanuddin kepada bisnis indonesia di banda aceh rabu 18/6. Padahal anggaran biaya untuk memajukan pendidikan di aceh sudah dialakosikan sebesar 1.3 Trilyur.
Namun, katanya, mekanisme yang dijalankan belum tepat sasaran. Penyaluran Dana bantuan operasional sekolah di Aceh masih banyak sarat masalah, sehingga berdampak pada hasil kelulusan Ujian Akhir Nasional yang semakin menurun. Lanjut anggota DPRA Fraksi F yang membidangkan pendidikan.
Selain itu, masih banyak persoalan lain di hadapi oleh tenaga pengajar di pendaerahan, pemerintah belum mampu membenahi sistem dan perangkat pendidikan secara umum, sebahagian besar guru di daerah tidak diberikan buku paket. Lanjutnya.
Burhanuddin menambah, Pemberian uang TC, dana BOS untuk guru juga masih sarat masalah dan amburadul, dan tidak tranparan, para guru banyak yang tidak mendapat hak-haknya secara patut. Fakta hasil kwalitas pendidikan dari UN tahun ini, belum mencerminkan gambaran alokasi anggaran Rp 1. Triliun lebih, Kebocoran anggaran juga masih disinyalir terjadi dijajaran dunia pendidikan di Aceh.
Yang sangat disayangkan, adanya kecurangan dilakukan oleh pengawas saat ujian berlangsung, sehingga mempengaruhi nilai yang dialami oleh siswa, namun pemerintah hanya diam saja. Tidak merespon apa-apa, ini terbukti keseriusan pemerintah untuk memajukan pendidikan di aceh masih diragukan. Ujar burhanuddin.
Kebocoran anggaran juga masih disinyalir terjadi dijajaran dunia pendidikan di Aceh. Diharapkan agar Komite sekolah dan org tua murid memantau terus perjalanan pendidikan di Aceh, dan melaporkan kepada yg berwajib apabila menemukan indikasi penyimpangan anggaran pendidikan dan pengutipan yang tidak benar. Kami siap membanti untuk pengawasan demi masa anak-anak aceh.
Posted in
Diposkan oleh
kulatbulat
di
Thursday, June 19, 2008
(Saturday, June 14, 2008)
malik ridwan kontributor Bisnis Indonesia
Banda Aceh- Ujian Akhir Nasional (UN) baru saja selesai dilaksanakan, panitia mengumumkan hasil yang diperoleh ternyata jauh lebih buruk dari tahun sebelumnya. Menurut data yang kami peroleh dari Dinas Pendidikan propinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Secara keseluruhan kelulusan Ujian Akhir Nasional dinyatakan lebih dari 30 persen siswa tidak lulus ujian tersebut.
Hasil pengumuman Ujian Nasional (UN) untuk Sekolah Menengah Umum (SMU) sederajat tahun 2008 di Provinsi Aceh yang akan diumumkan pada hari ini, Sabtu (14/6) di masing-masing sekolah ternyata masing tak kalah buruknya dari tahun sebelumnya.
Data tersebut menyebut, dari 31. 201 peserta UN bidang IPA se-provinsi Aceh, ternyata cuma 80,76 persen siswa yang lulus. Yang paling parah adalah di bidang IPS, dari 23. 438 peserta cuma 62,31 persen yang lulus. Dibidang bahasa cuma 72, 85 persen siswa yang lulus. Tingkat SMK tercatat 68,67 persen siswa yang lulus UN.
Ketua panitia UN tingkat Provinsi Aceh, Yulizar usman, mengakui dirinya belum mengetahui persis berapa persen yang tidak lulus ujian nasional tersebut, saya belum sempat melakukan cek dan ricek data kelulusan secara keseluruhan.
Namun, katanya, jika benar nanti ada siswa yang tidak lulus ujian nasional, mereka harus menempuh ujian paket c yang akan dilaksanakan pada tanggal 24 juni nanti, Pendaftaran ujian paket c dimulai 16 sampai 20 Juni disekolah masing-masing. tambah yulizar kepada sejumlah wartawan di banda aceh.
Sementara itu, Drs. Sofyan Sulaiman, Kepala Dinas Pendidikan Kota Banda Aceh mengakui tingkat kelulusan siswa Kota Banda Aceh berada di atas rata-rata Provinsi Aceh. Beberapa sekolah disebutkan, malah mendapat predikat A.
Katanya, sekolah-sekolah yang mencapai tingkat kelulusan 100 persen adalah SMA Methodis, SMU 1 Banda Aceh jurusan IPA, SMU 3, SMU Fatih School, SMU Safiatuddin dan SMU 4 Kota Banda Aceh. Beberapa sekolah tersebut berklasifikasi A.
Kota banda aceh sendiri tidak terlalu banyak yang tidak lulus ujian akhir nasional tersebut, secara Persentase kelulusan siswa pada un SMU Kota Banda Aceh sendiri mencapai 91,22 persen dari total siswa SMU yang ikut UN 2008.
Di Aceh Selatan, Ada Sekolah Yang Kelulusan O Persen
Buruknya angka kelulusan kali ini juga terjadi di berbagai wilayah dalam kabupaten. Di Aceh Selatan misalnya, bahkan ada beberapa sekolah yang satu bidang jurusan memiliki 0 persen kelulusan.
Data yang diperoleh oleh wartawan, dua sekolah di Aceh Selatan jurusan IPS memiliki angka 0 persen kelulusan. Sekolah tersebut seperti SMA 1 Trumon yang angka 0, 00 persen kelulusan dan MA Swasta Kluet UTARA.
Selanjutnya, SMA I Bakongan jurusan IPS memiliki angka kelulusan 38,82 persen, SMA I Kluet Utara dengan 5,88 persen kelulusan, SMA I Trumon Timur dengan 33,33 persen. Paling bagus, diduduki oleh MAN 1 unggul tapaktuan jurusan IPS dengan angka kelulusan 100 persen, disusul SMA I Labuhan Haji serta SMA I Kluet Selatan.
Di jurusan IPA, SMA I Kluet Selatan juga memiliki kelulusan 100 persen, terburuk SMAN I Trumon dengan angka kelulusan 20 persen serta MA swasta Kluet Utara dengan angka kelulusan cuma 43, 95 persen.
Pendidikan Aceh Sangat buruk
Buruknya nilai ujian akhir nasional mendapat kecaman dari berbagai pihak, salah satu datang dari pengamat pendidikan aceh Prof Dr Farid Wajdi Ibrahim.
Farid, menilai kegagalan ini berdampak pada sistem pengelolaan pendidikan aceh masih ambul radul, seharusnya tidak terjadi karena tahun sebelumnya angka kelulusan 88 persen, atau 22 persen tidak lulus.
Ini suatu kemunduran yang di alami dunia pendidikan aceh, padahal tahun 2007 lalu pemerintah mengalokasikan biaya pendidikan sebesar 700 milyar lebih, namun pembinaan sangat tidak realitis, kata Dekan Fakultas tarbiyah IAIN Ar-Raniry.
Seharusnya dinas pendidikan bercermin diri, karena telah terbukti tidak mampu memperbaiki sistem pendidikan yang lebih baik dari tahun sebelumnya, jika ini tidak di ambil langkah secepatnya. Tahun depan dunia pendidikan Aceh semakin merosot dimata nasional, tambah farid.
“jangan hancurkan masa depan anak-anak karena manajemen pendidikan yang tidak bagus, seharusnya dinas terkait lebih fokus mencari kelemahan di tahun ini. Percuma anggaran yang dialokasi 1.3 Milyar jika tingkat kelulusan tidak mampu melewati angka tahun 2008,” harap Farid dengan nada optimis.
Hal senada juga disampaikan anggota DPRA yang membidangi bidang pendidikan, Burhanuddin, dianya sangat kecewa setelah mengetahui angka ketidaklulusan lebih dari 30 persen.
Burhanuddin menambahkan, seharusnya angka ketidaklulusan tidak mencapai 30 persen, ini justru lebih buruk dari tahun sebelumnya. Saya sangat kwatir kedepan bisa jadi tingkat kelulusan menurun lagi, ujar anggota komisi F DPRA ini.
“sebaiknya dinas pendidikan harus membenahi manajemen sekolah yang lebih baik secepatnya, ini masih punya waktu setahun, jika tidak dibenahi. Masa depan sekolah-sekolah di aceh akan menurun lagi kwalitas siswanya,” tambah burhanuddin.
Katanya, dengan anggaran yang cukup besar untuk tahun 2008 ini. Dinas pendidikan masih memiliki waktu membenah manajemen sekolah yang sudah ambul radul, saya harap kepala dinas propinsi secepat mungkin melakukan koordinasi dengan dinas-dinas kabupaten/kota yang ada dalam Nanggroe Aceh Darussalam.
Posted in
Diposkan oleh
kulatbulat
di
Saturday, June 14, 2008

Posted in
Diposkan oleh
kulatbulat
di
Sunday, June 08, 2008

Oleh : Malik Ridwan
- Juru Bicara BRR : Tidak Ada Pembayaran Ganda
Banda Aceh-Badan Pekerja Anti Korupsi Gerak Aceh menemukan ada Dua satuan kerja Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satker BRR) Aceh-Nias diduga telah melakukan pembayaran ganda dalam proses pekerjaan fisik yang dilakukan Kantor pusat di Lhung Bata.
Proyek yang didanai Satker sementara BRR-Kelembagaan, Pengembangan Sumber Daya Manusia dan Satker BRR-Pembangunan Infrastruktur Pemerintah NAD dengan total indikasi kerugian Negara mencapai Rp. 1.660.840.500. hal ini terungkap atas penelitian laporan SP2D (surat perintah pencairan dana) terhadap bukti biaya pengeluaran pembayaran uang ditahun 2007. Kata Manager Program Monitroring Rehabilitasi dan Rekonstruksi Gerak Aceh di Banda Aceh, rabu 4/6.
Ini bukan pertama kali di lakukan oleh BRR dalam melakukan proyek fisik, akan tetapi sudah sering terjadi, sehingga banyak proyek lain tidak siap karena alokasi anggaran kerap disalahgunakan. Tambah Askhalani.
Dari hasil analisa terhadap dokumen, ditemukan bahwa potensi kerugian negara yang dilakukan dalam pekerjaan fisik dengan modus melakukan pembayaran untuk proyek yang sama kepada satu perusahaan mencapai angka milyaran rupiah. Tandasnya
Askhalani menjelaskan kronologis temuan pembayaran ganda terjadi, memicu pada data dokumen serta penelitian terhadap keabsahan SP2D serta SPM (surat perintah membayar) ditemukan bukti yang telah dibayarkan kepada tiga perusahaan dalam proyek pekerjaan fisik yang sama oleh kedua Satker tersebut.
Ketiga perusahaan dimaksud yaitu CV Global Bangun Persada pada Proyek Pekerjaan Pembangunan Pagar BRC dan Pagar Bataco Kantor Satker BRR Lhueng Bata di Kota Banda Aceh (Paket 43) pada Satker BRR-Kelembagaan Pengembangan Sumber Daya Manusia dan Satker BRR-Pembangunan Infrastruktur Pemerintah NAD.
CV Geulumpang Cipta Sarana pada Proyek Pekerjaan Paving, Jalan Akses, Saluran dan Taman Kantor dan Tempat Parkir Kendaraan Roda Dua Komplek Satker Sementara Lhueng Bata di Kota Banda Aceh. pada Satker BRR-Kelembagaan Pengembangan Sumber Daya Manusia dan Satker BRR-Pembangunan Infrastruktur Pemerintah NAD
Dan yang ketiga Proyek Pekerjaan Pembangunan Gedung A,B,C dan Pos Jaga Komplek Kantor Satker Sementara Lhueng Bata di Kota Banda Aceh. pada Satker BRR-Kelembagaan Pengembangan Sumber Daya Manusia dan Satker BRR-Pembangunan Infrastruktur Pemerintah NAD yang dikerjakan oleh Dikerjakan CV Mitra Mulia Kontruksi, jelas Manager Monitroring Rehabilitasi dan Rekonstruksi Gerak Aceh
Hasil monitoring dan analisis dokumen ada kejanggalan yang cukup luar biasa. Sebab, perusahaan pemenang dalam pembangunan ini bisa melakukan penarikan dana sekaligus diproyek yang sama, apa lagi realisasi proyek yang dikerjakan oleh tiga perusahaan tersebut dikeluarkan oleh dua satker yang berbeda. Lanjutnya.
Kedua Satker tersebut melakukan transaksi keuangan pada waktu yang berbeda, satker SDM dilakukan pada tanggal 1 Februari 2007 sedangkan satker PIP-NAD dilakukan pada tanggal 12 Juni 2007, pengeluaran atas pencairan dana yang dikeluarkan oleh KPPN Khusus Banda Aceh pada proyek yang sama ketiga perusahaan tersebut. Sebut Askhalani.
“dari fakta tersebut maka patut diduga bahwa pekerjaan yang dilakukan salah satu dari pekerjaan itu akan ter-indikasi fiktif, hal ini dikarenakan proses pekerjaan dilakukan double atas tempat, wilayah kegiatan serta proyek dan pekerjaannya sama, maka potensi fiktif terhadap salah satu Satker sangat berpeluang terjadi terutama dalam penarikan dana.” Ungkap manager di hadapan wartawan
Untuk itu kami dari Gerak Aceh mendesak Aparat Penegak Hukum baik Pihak Kejaksaan Tinggi (Kejati) Aceh maupun Polisi untuk segera mungkin melakukan penyelidikan dan pemeriksaan atas kasus ini.
Selain itu, kepala Bapel BRR NAD-Nias, Deputi Operasi Dan Deputi Pengawasan untuk segera melakukan pengusutan atas kasus ini dan juga menyerahkan kasus ini kepada aparat penegak hukum, mengingat adanya potensi kerugian negara milyaran rupiah serta segera mengenakan sanksi internal berupa sanksi administrsi untuk memberikan efek jera bagi staff BRR yang patut dicurigai adanya indikasi “permainan” oleh oknum-oknum tertentu dalam proyek ini untuk memperkaya diri. Desak Askhalani.
Sementara itu Juru Bicara BRR, Twk Mirza Keumala yang dihubungi bisnis Indonesia menyatakan, temuan yang telah disampaikan Gerak Aceh itu sudah di sikap baik pihakya.
Namun, setelah menurunkan Tim dari Deputi pengawasan BRR tidak ditemui pelanggaran, hanya saja terjadi pengeseran satker. Itulah yang menjadi masalah. Tambah mirza.
Mirza menambahkan, kronologis kejadian itu, mulanya satker tersebut hanya satu pada awal januari tahun 2007, namun di pertengahan mei 2007 di belah menjadi dua satker, sehingga arsip terbawa ke satker baru, sehingga menimbulkan kecurigaan, namun setelah diteliti tidak ada apa-apa. Kita sudah menyelidiki sejak kejadian tersebut.
“tolong jangan di besar-besarkan lagi, kita sudah menyelidiki sesuai dengan mekanisme BRR, jadi intinya tidak ada pembayaran ganda di lakukan oleh BRR” tandas Mirza Keumala.
Posted in
Diposkan oleh
kulatbulat
di
Sunday, June 08, 2008
(Wednesday, June 04, 2008)
Kondisi masyarakat aceh sepertinya belum pulih dari tekanan konflik yang berkepanjangan, buktinya masih ada terjadi penyerangan terhadap warga sipil oleh sekelompok orang-orang yang bersenjata dan berpakaian lengkap.
Kejadian tanpa motif apa-apa terjadi pada tanggal 30-31 mei lalu. Disebut-sebut kelompok dimaksud datang dari Bener Meriah membakar dan merusak tiga rumah, empat sepeda motor serta menembak seekor kerbau milik masyarakat nisam antara. Di KM 33 itu, mereka melakukan penggerebekan rumah yang disusul letusan senjata. Ujar Juru Bicara Komite Peralihan Aceh Ibrahim syamsuddin kepada wartawan rabu 4/6 di banda aceh
Seperti dikutip dari kepala desa Kepala Dusun Jabal Antara, Anwar, kini kondisi masyarakat nisam antara sangat ketakutan akibat kejadian tersebut. Tambah Juru Bicara KPA
Untuk itu kami dari Komite Peralihan Aceh mengutuk atas kejadian tersebut dan meminta aparat kepolisian harus bertindak terus mengusut tuntas agar tidak terjadi main hakim sendiri jelas-jelas tidak dapat diterima akal sehat. Ini jelas sangat menganggu proses perdamaian yang seharusnya kita rawat bersama. Ungkap Ibrahim
Ibrahim Syamsuddin, menambahkan, seharusnya aparat penegak hukum bersikap tegas dan cepat untuk mengusut tuntas siapapun yang menodai perdamai Aceh, ini negera hukum mestinya semua pelaku harus di jerat sesuai dengan hukum yang berlaku tidak main hakim sendiri. Rakyat sudah sangat trauma, dan baru perlahan beranjak menata kembali pranata normal kehidupan mereka jangan dinodai oleh sentimen-sentimen pribadi atau kelompok. Semua pihak harus menghormati hukum
“Tindakan barbar seperti yang dipertontonkan di Nisam menunjukan masih ada pihak yang belum memahami makna Perdamaian sepenuhnya, mengapa harus merusak harta milik masyarakat kecil dan tak berdosa. Seharusnya rakyat kecil harus dilindungi karena perdamaian ini lahir dari mereka” lanjutnya
“jika aparat kepolisian tidak mampu mengungkap kasus yang menimpa masyarakat Nisam, kami siap membantu pihak aparat jika di minta bantu, agar prosesi perdamaian Aceh benar-benar berjalan sesuai dengan amanah MoU helsenki” tandas ibrahim।
----------------
bangsa yang mulia adalah bangsa yang merdeka dari kebebasan berpikir, bukan bangsa yang larut di jajah oleh karakteristik dan kebijakan tertentu
Posted in
Diposkan oleh
kulatbulat
di
Wednesday, June 04, 2008