(Tuesday, July 29, 2008)






Posted in Diposkan oleh kulatbulat di Tuesday, July 29, 2008  

Banda Aceh- Untuk mempercepat pembangunan Aceh pasca peninggalan Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh-Nias, pemerintah pusat mengalokasikan anggaran sebanyak 1,6 Triliur Rupiah untuk dana tambahan.



Demikian disampaikan Menteri Perencanaan Pembangunan/Kepala Bappenas, Usai mengikuti Dialog Terbuka untuk mempercepat pembangunan Aceh, disela-sela Kongres Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Minggu 28/7 malam di Banda Aceh,

Paskah suzeta, menambahkan, dana tersebut akan di kelola oleh pemerintah aceh bersama perangkat yang di bentuk oleh gubernur aceh setelah BRR bubar pada bulan april tahun depan.

Ini jauh lebih besar di bandingkan dengan kepulauan nias, Aceh secara keseluruhan mendapat 1.6 Trilur sedangkan Nias sumatera hanya mendapat 1 milyar, rinci paskah.

Kita berharap, dana tersebut benar-benar dikelola dengan baik dan transparan oleh pemerintah daerah sebab, kata paskah, jika dana tersebut tidak dimainkan peran maka pemerintah pusat akan bertindak untuk melakukan evaluasi terhadap pengelolaan dana untuk pembangunan aceh pasca BRR. Sebutnya.

Untuk itu pemerintah daerah aceh, harus melakukan yang terbaik untuk masyarakatnya, sebab pemerintah pusat akan segera melakukan koordinasi dengan pemerintah daerah untuk membahas mekanisme penyaluran dana tersebut. Tambahnya.

Jika BRR sudah bubar, kita akan segera meluncurkan dana tersebut kepada pemerintah Aceh, sebagai pelaksana tugas untuk melanjutkan pembangunan di aceh nantinya. Tandas paskah.

Posted in Diposkan oleh kulatbulat di Tuesday, July 29, 2008  

BANDA ACEH - Menteri Perencanaan Pembangunan/Kepala Bappenas, H Paskah Suzetta mengatakan, untuk membangun negri aceh yang diakibatkan konflik dan tsunami diperlukan kesadaran dan peningkatan sumber daya manusia yang baik.
Jika sumber daya aceh masih rendah, lalu bagaimana nasib Undang-Undang Pemerintahan Aceh kedepan, untuk itu saya mengajak semua elemen untuk memikirkan kondisi aceh yang kiat membaik, saya rasa dengan MoU dan UUPA serta dukungan SDM Pemerintah Aceh dan masyarakatnya untuk bangkit dari keterpurukan.

“ini menjadi modal bagi Pemerintah Aceh dan masyarakatnya untuk mengejar ketertinggalan dari daerah lain,” kata Paskah dalam paparannya pada Dialog Pers dan Masyarakat yang diselenggarakan dalam rangka Kongres XXII PWI di Gedung AAC Dayan Dawood, Darussalam, Banda Aceh, Minggu (27/7) malam.

Paskah Suzetta mengatakan, momentum MoU dan UUPA sangat strategis untuk dijadikan pemicu bagi Pemerintah Aceh mengejar ketertinggalan. Ketertinggalan itu, antara lain jumlah penduduk miskin masih 26 persen lebih, SDM rendah dan pendapatan per kapita rakyat Aceh juga masih di bawah rata-rata nasional.

Dengan UUPA, lanjut Paskah, penerimaan keuangan Aceh menjadi lumayan besar. Setelah pemberian dana tambahan bagi hasil migas 55 dan 40 persen menjadi 70:70 persen, Aceh juga mendapat dana otsus 2 persen atau setara dana alokasi umum (DAU) nasional yang diterima mulai 2008. “Dengan tambahan dana tersebut, Pemerintah Aceh perlu mengoptimalkan penggunaan APBA-nya untuk enam program yang diamanahkan dalam UUPA. Kecuali itu, SDM birokrasinya juga perlu ditingkatkan,” tandas Paskah Suzetta.

sementara itu, surya paloh, mengatakan, sebenarnya Aceh belum cukup jika UUPA Nomor 11/2006 dan UU Free Port Sabang Nomor 37/2000 yang telah dilahirkan pada tahun 2000, ternyata peraturan pemerintah atau aturan lanjutannya tidak dikeluarkan Pemerintah Pusat sampai saat ini.

Pemerintah Aceh, kata Surya, perlu memberikan waktu kepada Pemerintah Pusat untuk menerbitkannya. Jika waktu selama 6 bulan–– menurut peraturannya–– ternyata Pusat belum juga menerbitkannya, maka Pemerintah Aceh bisa langsung membuat dan mengesahkan serta memberlakukannya. “Pusat jangan terus ’menipu‘ rakyatnya. Pers perlu mengontrol pemerinah, terutama orang-orang yang ingin mencalonkan diri menjadi presiden, gubernur, bupati/walikota, tapi dirinya belum pantas untuk menjabat jabatan tersebut, melainkan cuma ingin mengejar kekuasaan dan protokoler semata,” tandas Surya.

Surya juga menyarankan, Pemerintah Aceh perlu menerapkan manajemen skil atau manajemen interpreneur dalam melaksanakan pemerintahannya jika ingin cepat maju dan mengejar ketertinggalannya dari daerah lain.

Pungutan yang memberatkan dunia usaha harus diminimalisir dan penerbitan izin investasi dipercepat. “Tingkatkan pelayanan kepada publik, jika ingin pemerintahnya disebut sebagai pelayan rakyat, bukan minta dilayani,” sarannya.

Sebelumnya, Gubernur Aceh Irwandi Yusuf memaparkan, ada tujuh strategi yang dilakukan Pemerintah Aceh untuk mempercepat pembangunan Aceh pascakonflik dan rehab rekons. Ketujuh langkah strategis itu meliputi pemberdayaan ekonomi, pembangunan infrastruktur, peningkatan pendidikan, kesehatan, pembangunan sosial, dan pengurangan risiko bencana. “Tujuh program ini diharapkan tercapai pada akhir 2012 atau 2017,” kata Irwandi.

selain itu, kepala BRR NAD-Nias, Kunturo Mangkusubroto, dalam makalahnya mengakui pihaknya sudah membangun sebanyak 11.2.000 unit rumah, selain bantuan dari berbagai NGO yang berkerja mulai dari tanggap darurat sampai pada masa transisi.
Ini melebihi blue print yang telah ditetapkan oleh pemrintah pusat bersama pemerintah daerah, tandas kuntoro dihadapan peserta kongres.

Kuntoro mengatakan, sistem pendataan rumah terbaru menggunakan sistem geo special information system. Artnya rumah yang telah dibangun dan siapa pemilik dan letaknya di mana bisa dilihat langsung dalam data yang telah dibuat BRR. “Ini menjadi contoh dan DPR RI meminta Bappenas membuatnya untuk seluruh Indonesia,” ungkap Kuntoro. K48


Posted in Diposkan oleh kulatbulat di Tuesday, July 29, 2008  

Orientasi Perkenalan Kampus (OSPEK) di IAIN Ar-Raniry pada hari pertama berjalan lancar, tidak ada yang mengacaukan suasana, sepenuhya kegiatan ospek ini di ikuti lebih 1500 yang terdaftar di IAIN Ar-Raniry.

Demikian disampaikan koordinator kegiatan OSPEK tahun 2008 Drs. Lukman Ibrahim M.Pd, dalam sambutnya pada saat pembukaan acara ospek di Auditorium IAIN Ar-Raniry, senin, 28/7.

Lukman mengatakan, sebenarnya pihaknya ingin melakukan ospek ini dengan metode baru, seperti seminar, workshop, pameran dan diskusi panel, namun terkendala dengan pemahaman dan pengertian, sehingga format acara hanya di buat dalam perkenalan akedemik saja.

“ini lebih menyetuh dibandingkan dengan arak-arakan tahun sebelumnya. Mahasiswa baru mengenal bagaimana sebenarnya kuliah yang baik, mengenal jurusan yang dia pilih dengan baik, dan cara isi KRS yang efektif. Jelas lukman.

Alasan ospek tahun 2008 ini, dikelola oleh pembantu rektor III bersama BEMA dan UKK serta UKM ini, mengingat kondisi IAIN sedang di gembar-gembor oleh oknum yang tidak bertanggung jawab, untuk itu kita buat ospek hanya di dalam ruangan saja. Sebutnya.

Lukman menambahkan, bagi yang telah mengutip biaya diluar yang telah ditetapkan oleh rektor, pihaknya akan mengembalikan sebanyak yang di kutip, oleh karena itu kepada mahasiswa baru yang terlanjur memberikan uang diluar prosudur jangan ribut-ribut dulu, kita akan musyawarahkan, nanti uang tersebut akan kita kembalikan. Tandasnya.

“oleh karena itu jika ada pihak yang coba-coba menganggu perjalan ospek akan ditindak sesuai mekanisme akademik IAIN, karena apapun alasanya, kalau sudah masuk ke kampus IAIN itu sudah menjadi tanggung jawab kampus” lanjut Lukman.

Sementara itu, Rektor IAIN Ar-Raniry Prof Drs H Yusny Saby, MA. PhD, mengatakan,
pihaknya menyambut positif pelaksana ospek tahun ini, sebab yang diajarkan di IAIN ini adalah etika dan sopan santun.

“perubahan ini, justru salah satu cara untuk memajukan IAIN, kita tidak ingin IAIN ini mundur keterbelakang akibat, ulah oknum yang tidak bertanggung jawab. Tambah yusny saby

Maka siapapun yang melakukan pelanggaran, pihak rektorat tidak segan-segan mengambil langkah konkret, sebab mahasiswa di IAIN ini di didik menjadi orang-orang pembawa amanah dan pemimpin bangsa. Kita tidak ingin ada pihak yang mengacaukan suasana ini. Sebut rektor
“kepada pihak penyelenggaran, rektor mengamanahkan, untuk terus melakukan kontrol terhadap pelaksanaan ospek ini sampai selesai, jangan sia-siakan calon pemimpin umat disuatu saat nanti. Harap rektor.

“rektor juga dengan tegas mengatakan, untuk tahun 2008 ini, untuk pengutipan selain yang telah di tetapkan oleh panitia pelaksana itu semua haram (punggutan liar) jadi kepada yang sudah mengutip biaya itu intropeksikan diri dulu, sebaiknya kembalikan saja kepada yang bersangkutan.”

Yusny berharap, sebagai mahasiswa tentunya harus berpikir jernih, bukan memikirkan hal-hal yang diluar prosudur mahasiswa, jika anda mahasiswa, maka anda adalah orang-orang pilihan dan memiliki wawasan yang luas, maka sudah saatnya para generasi muda aceh ini bangkit dengan ilmu pengetahuan.

Jangan ada lagi kerusuhan dan keributan di lingkungan kampus, kami inginkan OSPEK ini berjalan lancar dan aman, jika ada yang membuat rusuh, jangan segan-segan melapor, demi keselamatan anda dalam proses perkuliahan nanti, imbuh rektor.

Oleh karena itu, yusny menagajak seluruh elemen untuk berpikir yang sehat dan positif untuk kemajuan kampus ini, termasuk perubahan ospek tahun ini, padahal kata rektor tidak ada ospek bagi mahasiswa sebagaimana intruksi dari pihak lembaga, jelasnya.

Namun, sebut rektor, kita tidak mungkin tidak melakukan sama sekali, ini salah satu cara untuk membawa mahasiswa baru yang masih murni ke dalam nilai kemahasiswaan yang sebenarnya. Tandas rektor.

Posted in Diposkan oleh kulatbulat di Tuesday, July 29, 2008  

IMT-GT sepakati Kerjasama Regional

(Thursday, July 24, 2008)

Pertemuan Joint Busines Counsil (JBC) IMT-GT ke-25 di banda aceh, sepertinya telah membuahkan hasil sebagaimana harapan gubernur Aceh saat membuka acara tersebut di hotel hermes palace rabu 10 juli lalu.

Acara yang dihadiri 200 pengusaha baik lokal maupun internasional difasilitasi oleh Kadin Aceh, telah berakhir jumat malam. Pertemuan Kerjasama regional dalam lingkup Segitiga Pertumbuhan Indonesia Malaysia dan Thailand (Indonesia Malaysia Thailand Growth Triangle/IMT-GT) itu menyepakati dilakukannya kerjasama yang lebih fokus di masa yang akan datang. Terutama dalam lingkup regional.
Sebagai tindak lanjut pertemuan ini, ketiga negara sepakat melakukan investasi di masa yang akan datang, dlam bidang perikanan, program beasiswa bagi yang ingin melanjutkan pendidikan ke luar negeri.
Selain itu, juga disepakati kerjsama dalam pengembangan komoditas pertanian, agrobisnis dan peternakan. Kerjasama pengembangan paket wisata Banda Aceh-Sabang-Jantho (Basajan) untuk mendukung linkage Sabang-Phuket-Langkawi. “Serta MoA antara Kadin Aceh dan Kadin Sumut di bidang peningkatan dan perluasan kerjasama kemitraan usaha dan pengembangan sumber daya manusia,” kata Ketua Panitia, Firmandez dalam sambutannya pada acara penutupan di Anjong Mon Mata, tadi malam.

Wakil Gubernur Aceh, Muhammad Nazar, mengharapkan apa yang telah dihasilkan dalam pertemuan JBC IMT-GT ke-25 ini dapat menjadi inspirasi dan motivator kepada dunia usaha di Indonesia khususnya di Aceh. “Pemerintah Aceh juga telah diberi wewenang seluas-luasnya bisa menarik secara langsung investor untuk bersedia masuk ke Aceh,” tambah Wagub.
Muhammad Nazar juga berharap para pengusaha dapat memanfaatkan forum ini sebagai upaya menarik investasi sesuai dengan potensi yang tersedia di daerah ini. “Kita mengharapkan pertemuan IMT-GT tidak hanya bermanfaat untuk mendapatkan free visa tapi juga dapat menghadirkan investor tiga negara membuka usahanya di Aceh. Ini penting dalam upaya membuka lapangan kerja di Aceh,” katanya


Pertemuan Joint Busines Counsil (JBC) IMT-GT ke-25 yang telah berlangsung sejak pada 10-11 Juli, tadi malam berakhir. Pertemuan Kerjasama regional dalam lingkup Segitiga Pertumbuhan Indonesia Malaysia dan Thailand (Indonesia Malaysia Thailand Growth Triangle/IMT-GT) itu menyepakati dilakukan kerjasama di lima bidang di antara pihak terkait.
Kerjasama yang disepakati tersebut antara lain meliputi bidang perikanan antara Pemerintah Aceh dengan Provinsi Songkhla Thailand dalam upaya memayungi dunia usaha di kedua daerah, termasuk beasiswa pendidikan ke Songkhla, bidang perikanan dan produk ikutannya, antara PT Aceh Trading Comodity dan Indonesia Malaysia Thailand Co.Ltd.








15 tahun

Terkait dengan kerjasama IMT-GT ini, Konsul Jenderal RI untuk Thailand, Mochammad Rizki Safary, kepada Serambi sebelumnya juga mengakui bahwa sejak 15 tahun berdirinya IMT-GT Aceh belum memberikan hasil yang signifikan bagi Aceh. “Jangankan merasakan manfaatnya, mengatahuinya saja tidak. Padahal Aceh termasuk provinsi awal yang bergabung dalam IMT-GT,” katanya sore kemarin di Hermes Palace Hotel, Banda Aceh.

Mengingat kondisi Aceh yang telah kembali aman, diharapkan Aceh akan menerima manfaat dari MoU yang telah disepakati nanti. Tugas pemerintah adalah membuka jalan dan memberi fasilitasi. “Sekarang setelah dibuka jalan, kalau tidak ada yang memanfaatkan, sampai 15 tahun, 25 tahun pun, nggak ada manfaatnya,” imbuhnya.

Dia juga mengharapkan kepada semua pihak di Aceh agar bersama-sama proaktif menghilangkan imej Aceh sebagai bekas daerah konflik. Diungkapkan bila citra Aceh tersebut hingga kini masih melekat di mata orang-orang luar


Sekitar 15 tahun lalu gaung Indonesia-Malaysia-Thailand (IMT-GT) bergema, dan kini kembali menggelar pertemuan para pengusaha yang diberi nama Joint Business Council (JBC) ke-25 di Kota Banda Aceh yang berlangsung 9-12 Juli 2008.
Masyarakat Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam kini menunggu implementasi kebijakan para pengusaha yang tergabung dalam wadah tiga negara dan hasil yang ditunggu adalah masuknya investor untuk membuka usahanya di Aceh.

Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) NAD, Firmandez mengatakan, pertemuan ini dijadwalkan membahas sejumlah agenda terkait dengan berbagai perkembangan antara lain kerjasama bidang infrastruktur, pengembangan sektor pariwisata dan transportasi.

Pertemuan reguler tersebut pertama kalinya diadakan di Aceh dan diharapkan dapat menjadi ajang promosi berbagai potensi sumber daya alam (SDA) daerah serta memperlihatkan situasi Aceh yang kondusif pasca konflik.

Aceh merupakan salah satu dari sepuluh provinsi di Indonesia yang menjadi bagian IMT-GT sejak 1991 dan diresmikan pada pertemuan di Langkawi Juli 1993 dengan tujuan untuk mengusahakan kompleksitas sumber daya yang dimiliki ketiga negara anggota.

Kerjasama di berbagai jenis usaha itu diharapkan dapat mendorong dan memperluas bidang usaha industri, pariwisata, pertanian dan perdagangan antar propinsi di tiga negara bertetangga yang sekarang dinilai belum optimal.

Tujuan umum dari program IMT-GT itu untuk mempercepat laju pertumbuhan ekonomi dunia usaha, melalui peningkatan perdagangan dan investasi, di samping upaya meningkatkan ekspor dari negara IMT-GT ke negara lain.

“Berbagai agenda yang dilakukan dalam forum ini dimaksudkan bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat serta upaya menurunkan biaya produksi, distribusi dan transaksi. Semua ini diharapkan dapat terlaksana sesuai potensi daerah ini,” ujar Firmandez.

Dijelaskan ada enam prioritas dalam kerjasama pengusaha IMT-GT, yakni bidang perdagangan, investasi dan pengiriman tenaga kerja, transportasi, komunikasi dan tenaga listrik, pertanian, perikanan serta industri pariwisata.

“Tapi, bagi Aceh, paling tidak sudah masuk empat proposal yang akan ditawarkan dalam forum JBC IMT-GT di Kota Banda Aceh, yakni transportasi, investasi, pariwisata dan komunikasi,” kata dia.

Namun, Firmandez membantah jika IMT-GT tidak menghasilkan nilai bagi pertumbuhan ekonomi di Aceh. “Meski belum memadai dan optimal, tapi ada beberapa hasil yang telah dicapai dari program kerjasama ekonomi itu,” katanya.

Dia mengatakan, sudah 47 MoU ditandatangani pengusaha Aceh dengan pihak Malaysia dan Thailand, namun sesuai sidang IMT-GT di Ipoh dan Perak (Malaysia) 1997, maka jumlahnya diseleksi kembali menjadi 24 MoU.

Enam dari 24 MoU tersebut telah terealisasi, antara lain terwujudnya penerbangan langsung Banda Aceh-Malaysia. Kerjasama pembangunan cold storage di Sabang serta penangkapan ikan serta penyediaan es balok antara pengusaha Aceh dengan Malaysia.

Di samping itu, katanya, juga telah beroperasinya pengolahan kayu di Aceh Besar dengan nilai investasi sebesar 16,4 juta dolar AS. Moulding tersebut diekspor ke negara-negara eropa yang setiap tahunnya senilai 10,7 juta dolar AS.

“Akan tetapi, kerjasama yang sempat berjalan itu terhenti akibat terpaan krisis ekonomi dan meningkatnya eskalasi konflik di Aceh,” jelas Firmandez.

Karena itu, dia berharap pertemuan pengusaha tiga negara yang tergabung dalam JBC IMT-GT ke-25 di Kota Banda Aceh tersebut sebagai moment penting dalam upaya mempromosikan kembali potensi investasi Aceh kepada pengusaha negara anggota.

Wakil Gubernur NAD Muhammad Nazar juga berharap para pengusaha dapat memanfaatkan forum ini sebagai upaya menarik investasi sesuai dengan potensi yang tersedia di daerah ini. “Kita mengharapkan pertemuan IMT-GT tidak hanya bermanfaat untuk mendapatkan free visa tapi juga dapat menghadirkan investor tiga negara membuka usahanya di Aceh. Ini penting dalam upaya membuka lapangan kerja di Aceh,” katanya



Posted in Diposkan oleh kulatbulat di Thursday, July 24, 2008  

Banda Aceh-Para dekan dilingkungan IAIN Ar-Raniry kini sudah memiliki kabinetnya, untuk mendukung program kegiatan dekan pada fakultas masing-masing, kata Rektor IAIN Ar-Raniry Prof Drs Yusny Saby, PhD, saat melantik pembantu dekan, sabtu, 19/7 di Aula biro Rektor IAIN.



Pelantikan yang dilakukan secara paket ini bukanlah hal yang baru, akan tetapi sudah dilakukan pada pelantikan dekan pada tanggal 26 Juni lalu, sebut Yusny Saby.

Dalam amanat tertulis rektor IAIN Ar-Raniry, Yusny Saby menyampaikan, rasa terima kasih kepada pembantu dekan yang telah berjasa membawa perubahan IAIN kearah yang lebih maju, dan kepada yang baru memangku jabatan ini lebih giat lagi berusaha untuk memajukan IAIN dimasa yang akan datang.

Yang terpenting kata rektor, bagaimana harus meningkatkan pelayanan terhadap pegawai, karyawan dan mahasiswa secara baik, jangan sertamerta dengan jabatan baru ini anda tidak peduli dengan bawahan, sebab jabatan ini bukan jaminan, karena rektor selalu memantu dan mengawasi keluhan dari bawah.

“kita dihadapi dengan tantangan yang luar biasa dimasa yang akan datang, persoalan akreditasi jurusan harus tuntas dalam tahun ini, karena sudah menjadi ketentuan dalam penerimaan pegawai terutama di perbankan, polisi dan PNS’ujar Yusny Saby

Untuk itu kami mengajak, para pembantu dekan yang baru saja memangku jabatan ini, harus pro aktif dalam mewujudkan akreditasi bagi jurusan yang belum mendapatkannya, dan pro aktif mengambangkan fakultas sesuai dengan keahlian masing-masing. Imbuh Yusny Saby

Dalam waktu dekat ini, kita juga memulainya pembangunan fisik di lingkungan IAIN seprti gedung perkantoran, ruang kuliah, dan perangkat-perangkat lainnya oleh IDB, maka para pembantu dekan ini, kami meminta jasa dan sumbang sih pikiran agar pembangunan yang akan berjalan sesuai dengan harapan kit bersama. Tandasnya.


Posted in Diposkan oleh kulatbulat di Thursday, July 24, 2008  

Banda Aceh-Untuk menumbuhkembangkan pendidikan yang ideal di Nanggroe Aceh Darussalam, yang diatur dalam sistem yang tepat diperlukan qanun khusus yang mengatur tentang pendidikan, agar penerapan pendidikan di aceh tidak tumpang tindih.

Demikian disampaikan Rektor IAIN Ar-Raniry, Yusny Saby, usai melantik melantik pembantu Dekan se-lingkungan IAIN Ar-Raniry, sabtu 19/7.
“jika Nanggroe Aceh Darussalam ingin mengubah pola pendidikan yang maju, tentunya diperlukan undang-undang yang mengatur secara khusus pada bidang pendidikan, oleh karena itu, tambah yusny saby qanun pendidikan Aceh sudah sangat mendesak.
Yusny menambahkan, selama ini kita selalu menyalahkan pemerintah dalam pelaksanaan pendidikan, namun kita tidak pernah melihat mengapa pendidikan aceh selama ini makin menurun, faktor utamanya yaitu undang-undang yang telah ada terlalu umum, jadi diperlukan secra khusus agar aliran dana pendidikan dapat dijalankan sesuai dengan undang-undang yang telah ada.
IAIN sendiri sebagai lembaga pendidikan, mendukung sepenuhnya usulan pemerintah aceh, yang mewacanakan qanun pendidikan diperlukan untuk memajukan pendidikan di aceh. Ujar yusny saby yang didamping Kabag Humas IAIN Ar-Raniry Ahmad Syauqi.
“Aceh secara kasat mata, sangatlah berbeda dengan daerah lain yang ada di Indonesia, makanya segala bentuk pelaksanaan undang-undang harus sesuai dengan karakteristik masyarakat Aceh, tambah yusny saby.
Rektor IAIN menambahkan, pelaksanaan syariat islam di aceh sebagai daerah otonomi khusus tentunya diperlukan undang-undang yang melaksanakan perangkat kepemerintahan sesuai dengan kebutuhan daerah, jika ini tidak dilakukan, maka kedepan jangan harap pendidikan aceh maju.
“apalagi alokasi anggaran untuk pendidikan di aceh sangat tinggi, mencapai angka 1.3 Trilyur, jika tidak bisa dimanfaatkan dengan baik dalam undang-undang tersendiri, maka dikwattirkan terjadi penyimpgan di lapangan. Jelas Yusny Saby.
Dengan demikian, lanjut yusny saby, langkah yang diambil oleh pemerintah Aceh sangatlah tepat dan bijaksana, untuk menghidari terjadinya kegagalan ujian nasional dimasa yang akan datang di Aceu.
“mari kita kuatkan barisan untuk mempersatukan kekuatan agar qanun pendidikan di Aceh bisa terwujud sebelum pemilu dimasa yang akan datang, ajakan rektor yusny saby kepada pers. K48

Posted in Diposkan oleh kulatbulat di Thursday, July 24, 2008